Tak terasa jari2 nya mulai tegang dan lelah, tapi gadis ini tetap saja tak mau berhenti barang sejenak pun meninggalkan laptop kesayangannya itu, tak mengerti gadis di usianya kebanyakan bergaul dan jalan dengan teman2, tapi rasya nama gadis berparas ayu itu tak menghiraukannya. dia asyik dengan dunia nya sendiri seperti hidup hanya dalam hayalannya sendiri. sudah tak bisa dipungkiri laptop miliknya hanya berisikan goresan2 tulisan yang mungkin bila kita membaca, kita tak mampu memahami apa yang sebenarnya yang ingin dia tulis, karena dari tulisan2 itu tak tergambar satu pun cerita tentang hidupnya, tapi tulisan itu lebih seperti lika-liku alam raya ini. dia sangat memperhatikan lingkungan sekitarnya sedetil apapun itu. dia kadang menulis tentang semut yang dilihatnya di tepi jendela, yang sedang berjalan bergerombol bersama pasukannya, dengan ditail dia bercerita itu. lalu diakhir cerita dia slalu menulis bahwa dia ingin hidup seperti semut2 itu. dalam tulisannya semut2 itu saling memahami, selalu bersama, selalu saling membantu, saling berbagi.
Ruang rindu
Ruang rindu ini
Bagaikan tiada dimensi
Tiada berpaksi
Mengheret sekeping hati
Untuk terus berdestinasi
Biarpun aku sendiri tidak pasti
Dimanakah nokhtah pengakhirnya nanti
Ruang rindu ini
Semakin hari semakin melebar
Semakin menyempitkan desis nafasku
Semakin menyukarkan untuk aku terus melangkah
Meski ruangannya lebar, tapi sempit untuk sebuah perjalanan
Di manakah dirimu tika ini
Apakah ada di ruang rindu tak berdimensi
Atau sekadar hadir dalam bayangan illusi.......
bersamamu kanvas putih
PBSID TUGAS LINGUISTIK
menurut buku yang telah saya baca beberapa halamannya , disitu disebutkan bahwa linguistic membahas tentang pengertian, hakikat, dan struktur bahasa secara umum. Artinya, bukan struktur bahasa tertentu, seperti bahasa jawa, bahasa belanda, atau bahasa Indonesia; melainkan struktur bahasa sebagai alat komunikasi verbal yang hanya dimiliki manusia.
makna cinta sejati sang kakek
Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30, seorang kakek berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Saya menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk dan mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.
Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Saya merasa kasihan. Jadi ketika sedang luang, saya sempatkan untuk memeriksa lukanya. Nampaknya cukup baik, sudah kering dan tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, saya putuskan untuk melakukannya sendiri.
Sambil menangani lukanya, saya bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab "tidak". Dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari.
Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer. Lalu saya bertanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir. Saya sangat terkejut dan berkata,
“Bapak masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi?”
Dia tersenyum sambil tangannya menepuk tangan saya dan berkata, “Dia memang tidak lagi mengenali saya, tetapi saya masih mengenali dia, kan..?”
Saya terus menahan air mata sampai kakek itu pergi. Cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis. Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.
Bagi saya pengalaman ini juga menyampaikan satu pesan penting: "Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, melainkan dapat berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki."







