Sejarah Pers Pada Masa Orde Baru
Pers
pada Orde Baru 1966 – 1974, dapat digambarkan secara kuantitatif dari hasil
penelitian Judith B. Agassi ( 1969) sebagai berikut: pada tahun 1966 terdapat
132 harian di Indoensia dengan total tiras 2 juta ekslempar dan mingguan
seanyak 114 buah dengan total tiras 1.542.200 eksemlar. Angka ini menunjukkan
kuantitas pers megalami kenaikan dibandingkan dengan masa Demokrasi Terpimpin.
Pada tahun 1965 terdapat 111 harian dengan
total tiras 1.153.800 ekslempar.
Kenaikan
tiras surat kabar harian maupun pada tahun 1966 ini, terutama disebabkan oleh
terbitnya kembali surat kabar – surat kabar lama yang telah dibredel dimasa
Demokrasi Terpimpin, seperti harian Merdeka
( terbit kembali Juni 1966), Berita
Indonesia ( terbit kembali Mei 1966) , Berita Indonesia September 1966) dan
lain- lain. Selain itu telah terbit surat kabar suratkabar baru seperti Harian Kami ( Juni 1966) , Angkatan Baru ( Juni 1966), Angkatan 66 ( Juni 1966), Mahasiswa Indonesia edisi Jakarta (
Maret 1966), Mingguan Mahasiswa Indonesia
edisi Jawa Barat ( Juni 1966), Trisakti
( Februari 1966), Harian Operasi (
Mei 1966), Mingguan Abad Muslim (
Oktober 1966) dan lain- lain ( Roger K.Paget, 1997a).
Tetapi
setahun kemudian,yaitu tahun 1967, angka itu merosot drastic dibandingkan
dengan angka pada tahun 1965 dan beberapa tahun sebelumnya. Surat kabar harian
berkurang sebanyak 31 buah, sehingga jumlahnya menjadi 101 buah dengan total
tiras hanya 893.500 ekslempar. Sedangkan mingguan berkurang sebanyak 20 buah,
sehingga jumlahnya menjadi94 dengan total tiras 908.950 ekslempar.
Khusus
di Jakarta, pada tahun ini terdapat 8 buah harian yang menghentikan
penerbitannya, Jawa Barat 1 buah, tetapi di Jawa Timur, tak ada Koran yang yang
menghentikan penerbiannya. Di Jawa Tengah justeru bertambah 1 buah. Di Sumatera
terdapat 15 buah harian yang menghentikan penerbitannya, 9 diantaranya terdapat
di Sumatera Utara. Demikian juga didaerah daerah lain, kecuali Nusa Teggara,
banyak surat kabar yang menghentikan penerbitannya.
Satu
hal yang dramatis terjadi di Daerah propinsi Sumatera Selatan, Palembang.
Menurut Agassi mengutip laporan O.G. Roeder dalam Far Eastern Economic Review,
September 1967, tidak ada satupun harian yang bisa bertahan terbit pada bulan
tersebut.
Walaupun
jumlah penertbit suratkabar yang menghentikan penerbitannya di daerah – daerah
tidak sama, namun kecenderungan umum menurunnya jumlah penerbitan surat kabar
serta total tirasnya di Indonesia telah terjadi pada tahun 1967. Pada tahun
1968 dan 1969, penurunan kuantitas pers Indonesia terus berlangsung. Menurut Agassi,
selama paruh akhir tahun 1968 jumlah harian merosot laggi menjadi 1/ 10 dari jumlah total tiras
harian yang ada ditahun 1966.
Mengapa
kuantitas pers Indonesia menurun pada tahun tahun itu ? factor apa saja yang
mempengaruhi? faktor apa saja yang mempegaruhi ? sudah uum diketahui bahwa pada
awal kebangkitannya, Orde Baru mewarisi hiper- krisis ekonomi yang mencapai
titik puncak yang sangat mengkhawatirkan. Karena itu, pengusa Orde Baru
melakukan usaha stabilitas dan rehabilitas perekonomian secara besar – besaran
dan drastis. ( Mohtar Mas’oed, 1989a; Anne Booth dan Peter McCaewley, 1982).
Program stabilisasi dan rehabilitasi perekonomian Orde Baru ini, disatu pihak
berhasil menurunkan hiper-infalsi ke suatu tingkat yang tidak mengkawatirkan
lagi serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, tetapi dipihak
lain program itu menimbulkan sejumlah krisis baru dalam masyarakat. Sala
satunya, seperti dikatakan oleh Mohtar Mas’oed adalah dikuranginya subsidi
pemerintah diberbagai sector ekonomi. Bagi dunia pers khususnya, kerugian ini
sangat terasa ketika subsidi atas harga kertas Koran dihapus. Hal lain yang
juga trut berpengaruh besar bagi eksistensi dan pertumbuhan pers Indonesia
adalah dikuranginya subsidi pemerintah atas sector transportasi dan komunikasi.
Keadaan ini kemudian diperparah lagi oleh naiknya biasa produksi dan ongkos
cetak . ( Agassi, hal. 18). Hal ini membuat harga jual dan langganan suratkabar
naik secara drastic yang mengakibatkan turunnya jumlah pelanggan atau pembeli
eceran surat kabar. Harga suratkabar nyaris tak dapat dijangkau oleh rata –
rata kemampuan daya beli mereka. Untuk menghindari resiko kerugia yang lebih
besar, maka sebagian pemilik suratkabar lebih milih menghentikan penerbitannya.
Bagi yang masih bertahan, maka tirasnyapun merosot.
( Zaini Abar, Akhmad. 1995. 1966-1974 KISAH PERS INDONESIA.
Yogyakarta: LKis. )






