Cinta Emak untuk Enok
Karya : Thamkynati Widyodimedjo
Hari ini 16Juli 2008 seharusnya aku bahagia karna aku
berhasil lulus dari sekolah dasar dan menjadi 10 besar tebaik diantara 40
teman-temanku yang lain , emak sangat
bangga melihat hasil perjuanganku, terlihat dari senyum yang mengukir dibibir emak setelah membaca pengumuman
kelulusan. Ingin sekali aku melanjutkan sekolah
menengah pertama , tetapi melihat kondisiku dan kondisi emak yang tidak bisa
berjalan tanpa bantuan kursi roda tidak
memungkinkan aku untuk melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi ,
terlebih lagi kami yang hanya tinggal berdua, karna tiga bulan yang lalu ayah
sudah dipanggil Sang Khalik untuk menemaniNya disurga, sekarang tidak ada lagi
tulang punggung dalam keluarga ini . Selama tiga bulan ini kita hanya
hidup dengan mengandalkan uang hasil jual gorengan dan tabungan peninggalan ayah yang kian lama kian
menipis .
Pernah
suatu hari aku berkata pada emak “mak enok tidak ingin melanjutkan sekolah ,enok
ingin membantu emak bekerja” , emak menatap ku sambil tersenyum simpul “nak ,
apakah kamu tidak ingat sewaktu ayahmu masih ada, pernah kamu mengatakan pada ayahmu
bahwa kamu ingin melanjutkan kesekolah yang lebih tinggi dari ayah dan emak,
itu adalah cita-citamu nak , kejarlah, emak akan melakukan apapun agar kamu
dapat kamu tetap bersekolah” “lalu uang dari mana mak untuk biaya sekolahku?”
kata ku sambil berkaca-kaca mendengar apa yang baru saja diucapkan emak “kamu
tidak usah khawatir carilah sekolah yang sederhana saja insyaalloh emak bisa membiayainya nak” . Akhirnya
aku memutuskan untuk mendaftar disekolah negri yang notabenya hanya orang-orang
sederhanya yang bersekolah ditempat tersebut .
( selang tiga tahun kemudian)
Hari
ini hari petama aku mengikuti ujian nasional , berdebar jantungku rasanya,
segala rasa bercampur aduk dalam benak ini. Aku berpamitan pada emak meminta
doa restu pada emakku tercinta, emak mengkecup kening dan memelukku seraya
mendoakan untuk keberhasilanku, air matapun
menetes diatas pundak emak . Mencium tangan emak dan bergegas berangkat.
Dihari
perpisahan sekolah yang bertepatan juga dengan hari pengumuman kelulusan tanggal 21 Juni 2011 aku terpilih
menjadi juara pertama , juara terbaik diantara teman-teman yang lain . Aku naik diatas panggung menerima serahan piala yang diberikan kepala
sekolah padaku , saat menjabat tangan seraya kepala sekolah berkata “tidak
sia-sia apa yang sudah dilakukan emakmu tiga tahun yang lalu” sontak pada saat
itu sangat kaget, karna aku sendiri tidak tau apa yang telah emak lakukan tiga
tahun yang lalu. Aku hanya tersenyum dan berharap dapat menemui kepala sekolah
dahulu sebelum acara ini selesai untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi
tiga tahun yang lalu.
Setelah acara perpisahan selesai aku bergegas mencari
sosok kepala sekolah disetiap sudut sekolah ini , aku melihat pak kepala
sekolah duduk didalam ruangan bertuliskan “ruang kepala sekolah” , aku
mendekati bapak kepala sekolah seraya bertanya “ memangnya apa yang sudah
dilakukan emak saya tiga tahun yang lalu pak ? , kenapa saya tidak
mengetahuinya” pak kepala sekolah tersenyum “duduklah nak , akan kuceritakan
semuanya, jadi tiga tahun yang lalu sebelum kamu mendapatkan beasiswa , emakmu
datang kesekolah ini untuk meminta jangka waktu pembayaran uang gedung dan uang
seragam tetapi pihak keuangan tidak mau memberikan dispendsasi pada emakmu
sampai berkali kali emakmu bolak balik kesekolah ini, hingga pada akhirnya
emakmu berlutut hingga turun dari kursi rodanya dan melihatkan dua buah telapak
tangan yang kasar bekas goresan kursi roda, didepan petugas keuangan dan
menangis menceritakan bahwa setiap pagi-pagi buta emakmu selalu pergi kekampung
sebelah untuk mengemis, mencari uang untuk biaya uang gedung dan biaya seragam
kamu nok , sekarang kamu sudah bisa membuat emakmu bangga karna melihat apa
yang telah ia perjuangkan dulu tidak berbuah sia-sia. ( enok menangis terisak
isak mendengar cerita bapak kepala sekolah )
The end ...







0 komentar:
Posting Komentar