Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Penantian semanis coklat





Penantian semanis coklat
karya : thamkynati wiryodimedjo 





Pagi ini matahari mulai muncul dari ufuk timur, seperti biasa ronanya mulai terpancar melalui celah-celah cendela kamar ku, pertanda hari sudah pagi. Aku lekas berdiri menghadap cermin yang tepat berada didepan ranjangku. Kutatap wajahku dalam-dalam, mata yang sembab, pipi yang lebam masih membekas, bekas tangis kerinduanku semalam “ Yaa Tuhan kenapa membekas, bagaimana aku bisa keluar dengan keadaan seperti ini?” keluh putri dalam hati. Aku urungkan niatku untuk keluar kamar, kebuka jendela kamar, kulihat bangunan bangunan gedung bertingkat nan megah, dan aku selalu bertanya-tanya dalam hati “siapa yang membangun gedung tersebut, pasti dia orang hebat, aku ingin seperti mereka bisa membangun gedung-gedung mewah bertingkat, kokoh nan indah”  kupandangi gedung-gedung tersebut  dengan ukiran senyum membayangkan jika aku menjadi seorang arsitek hebat, hingga aku lupa akan kerinduanku semalam. Senyumku masih mengukir hingga perlahan mataku tertuju pada bangunan kecil  berjajar diantara gedung-gedung tinggi, seketika itu senyumku menjadi semu .
Ya...  bangunan kecil berjajar diantara gedung-dgedung bertingkat inilah, yang membuatku teringat akan suatu hal indah yang pernah aku lalui bersama mantan kekasihku Hanung. Bangunan kecil itu hanya berukuran 2x4 meter. Tidak besar karna itu hanya sebuah kos-kosan kecil diantara gedung-gedung bertingkat. Melamun menatap bangunan panjang yang berjajar membuatku tak sadar bahwa air mataku sudah menghujan deras .
 Tepat satu minggu yang lalu Hanung meninggalkan tempat itu, tepat satu minggu yang lalu pula aku memutuskan hubungan berpacaran menjadi lajang, karena aku tidak sanggup jika harus berhubungan jarak jauh (long distance relationship). Sudah satu minggu kami tidak berkomunikasi, tetapi segala sesuatu tentang Hanung masih membekas dihati, dan semua itu sungguh menyakitkan, walau menyakitkan aku yakin sakit ini hanya sementara. Tetapi tetap tidak bisa aku pungkiri bahwa aku masih menyayanginya .
 Jika boleh kuakui sungguh aku masih menyayanginya, begitupun Hanung yang juga masih menyayangiku. Hanya saja suatu jarak inilah yang membuatku ragu akan hubungan ini. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk berpisah , karna jarak ini tidak mungkin bisa menyatukan kita lagi, kecuali hanya dengan doa yang dapat menyatukan kita kembali. Tentu doa baik yang selalu aku panjatkan pada sang kuasa disetiap sujudku, doa untuk dipertemukan lagi dengan Hanung sebagai imamku.
Awal bulan Agustus, tepat satu bulan sudah Hanung pergi. Aku mulai terbiasa dengan kesendirian ini. Kesendirian ini mulai bersahabat dengan ku. Akupun juga mulai menggulati dunia perkuliahan baruku di universitas sebelas maret dengan jurusan arsitektur yang aku impi-impikan selama ini. Aku menyibukkan diri dalam berbagai organisasi mahasiswa. Seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Lmp motivasi dll, hingga kesibukan ini sedikit membuatku lupa akan kerinduanku yang teramat mendalam.
Hingga waktu tidak terasa sudah menunjukkan empat tahun lamanya aku hidup dalam kesendirian tanpa ada orang lain yang dapat menggantikam sosok Hanung dalam kehidupanku. Berdiri dibalik jendela kamar menatap bangunan-bangunan kecil berjajar yang kian hari kian terlihat memudar warna catnya, dalam hati berkata “kenapa sosok sepertimu hanya ada satu ? sungguh aku tidak bisa melupakanmu !, disetiap sudut tempat ini terselip banyak kenangan bersamamu, akankah kamu kembali lagi kesini, mengukir kenangan bersamaku seperti dulu kala ?” air mataku mulai menghujan deras. Aku lelah meratapi kerinduan ini, aku rebahkan sejenak tubuh kecilku ini diatas kasur untuk mengistirahatkan raga dan hatiku. Penantianku tak kunjung berujung, aku tetap menunggu, karna aku percaya Hanung akan kembali dengan membawa janji-janjinya dulu “kelak jika aku sudah sukses aku akan datang kembali kesini, meminangmu sebagai putri cantikku”  .
Hari berganti hari kini aku mulai menitih karirku sebagai seorang arsitek ternama disebuah perusahaan arsitektur di kota Solo. Kini kesibukanku kian bertambah. Sedikit demi sedikit aku mulai dapat menggapai mimpiku. Mimpi menjadi seorang arsitek terkenal kini telah ada digenggamanku. Aku dapat membuat desain-desain bangunan nan indah dan megah. Seperti yang selalu aku bayangkan melalui balik jendela kamarku. Dalam hatiku mendesuh “aku sekarang sudah sukses Hanung, bagaimana denganmu? Aku menunggu kesuksesanmu, aku menunggu pinanganmu, dan yang selalu aku tunggu-tungu, aku selalu menunggu kedatanganmu. Apakah kulitmu masih tetap lebih putih dariku? Apakah berat badanmu masih lebih kecil dariku ? apakah rambutmu masih ikal bak Andrea Hirata sang penulis novel laskar pelangi ? kelak jika aku bertemu lagi denganmu akankah kau masih segan memanggilku “putri cantik”? sungguh, aku merindukan panggilan seperti itu darimu.
Entah apa yang terjadi dengan hari ini. Hari ini benar- benar menghantuiku dengan segudang pekerjaan yang menumpuk hingga aku harus rela pulang ralut malam. Aku pulang dengan menumpangi taksi langgananku, dengan disupiri oleh Mang Jojo. Ada truk mogok ditengah jalan yang membuat jalanan macat ditengah malam, dengan berat hati taksi yang aku tumpangi berbelok arah dan melewati jalanan yang sedikit lebih jauh dibanding biasanya. Tidak melewati jalan yang biasanya, melainkan kali ini aku melewati jalan yang dulu kerap aku lalui bersama hanung, angkringan tempat dulu kita mencari makanpun juga masih berdiri dengan kokohnya dipinggiran jalan, semua ini membuatku termangu dalam kenangan masa laluku.
Tiba-tiba Mang Jojo mendadak berhenti, hingga aku terbangun dari lamunanku, sontak aku terkaget “ ada apa mang kok tiba-tiba berhenti ?” , jawab Mang Jojo “ itu mba ada kecelakaan didepan” , “astagfirullah, sebentar mang biar aku turun sebentar, melihat siapa yang kecelakaan” sambil keluar dari taksi, “ iya mba, hati-hati Mang Jojo tunggu disini aja” jawab Mang Jojo. Aku masuk dalam kerumunan orang, ingin melihat siapa yang kecelakaan. Ternyata aku mengenal orang tersebut, tidak lain dia adalah Pak Barjo tetangga samping rumah, Aku meminta tolong orang-orang sekitar untuk membopong kedalam taksi. “kerumah sakit yarsis , Mang Jojo , cepat !” kataku pada Mang Jojo dengan panik. Saat itu Pak Barjo dalam keadaan tidak sadarkan diri, seampai dirumah sakit petugas rumasakit bergegas membawa Pak Barjo keruang icu, aku mengikuti langkah petugas rumah sakit menuju ruang icu. Aku berdiri didepan ruang icu , sambil memberi kabar keluarga pak barjo. Aku menunggu pak barjo didepan ruang icu sudah 10menit lamanya. Tiba-tiba mataku menatap tajam seorang dokter begitupun dokter tersebut juga menatapku dengan tajam, dokter yang berpakaian putih, mengenakan masker dan penutup kepala, hingga tidak nampak jelas wajahnya, tetapi tatapan mata dokter tersebut aku mengenalnya. Tatapan mata itu seperti tatapan mata Hanung, sungguh aku masih jelas mengingatnya.
Aku sudah menunggu satu setengah jam lamanya, bersama bu tatik istri pak barjo didepan ruang icu.  Dokter dan para perawat tak kunjung keluar dari ruangan tersebut, Bu Tatik juga masih menangis tersedu sedu, tidak menyangka dengan apa yang telah terjadi pada suaminya. Terdengangar suara gesekan pintu, dokter dan perawat sudah meninggalkan ruang icu, hanya ada satu perawat yang berkata pada bu tatik bahwa pak barjo sudah bisa dijenguk, bu tatik bergegas masuk ke ruang icu. Aku masih menatap langkah kemana dokter itu pergi, dalam hati sedih berkata “ dokter itu bukan Hanung, dia tidak mengenaliku, dia acuh padaku” . Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit , aku berhenti disebuah kantin kecil yang hanya ada aku dan penjaga kantin tersebut. Aku memesan kopi untuk sedikit menenangkan pikiranku. Selesai menengkan pikiranku, saat membayar penjaga kantin itu berkata padaku “ ada yang menunggu mba di taman belakang kantin”. Sontak terkaget “ siapa Bu ?” jawab penjaga kantin tersebut “ engtahlah , mngkin keluarga mba” .
Aku berjalan menuju taman belakang kantin, yang terlihat tidak ada siap-siapa disini. Hati sedikit jengkel “ dasar bu penjaga kantin tukang bo’ong”, aku mulai melangkahkan kaki menyusul Bu Tatik di ruang icu, tiba-tiba ada suara lirih yang menanggil “putri cantik , putri cantik” , perlahan aku menghentikan langkah kakiku. Aku menengok kebelakang sontak terkaget, tidak percaya dengan apa yang aku lihat didepanku sekarang. Sosok lelaki seumuranku, bertubuh kecil, berkulit putih, berambut ikal bak Andrea Hirata sang penulis novel laskas pelangi. Tanya lelaki tersebut “ kamu masih ingat dengan  ku ?” jawabku dengan lirih “ mana mungkin aku lupa denganmu ?, kemana saja pergimu ? aku selalu menunggumu , bertaun tahun lamanya” . jawab lelaki itu “ aku pergi menitih karir , sama seperti kamu juga bukan ? , sekarang aku menemuinu untuk membayar janji-janjiku dulu lima tahun lalu, maukan kau benikah dengaku ?” aku tidak bisa berkata-kata lagi , aku hanya bisa menganggu , tangisan bahagiaku sudah tidak dapat terbendung lagi, sekarang penantianku sudah berujung, dan berujung bahagia.  Malam ini seperti surga bagiku , Hanung melamarku tepat jam 03.00 pagi di sebuah taman di sebuah rumah sakit .
Tamat

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar