Nantikan Nurmey di Belitung
Oleh: Aswa Tamkinati Putri / A310130064
Saat matahari muncul dari ufuk timur, dengan suara desiran ombak
sendu yang mulai membuka hari bersenandung dengan tangisan mungil sang bayi
kembar. Senin 15 Januari 1995 Tanjung
Pandan, Bangka Belitung. Seukir senyum
melintas dibibir mungil Mamak melihat dua bayi mungil karunia Tuhan berada
diatas gendongan kedua tangannya.
Kita dilahirkan bersama
dengan Mamak yang sama, di hari yang sama,
tanggal yang sama, bulan yang sama serta jam yang hanya selisih beberapa
menit. Kita adalah dua saudara kembar,
Nurhey dan Nurmey . Kita kembar identik hingga tak jarang orang yang bisa
membedakan kita, karna yang beda dari kita hanyalah bentuk telinga dan rapatan
gigi, kita bisa terlihat berbeda apabila kita tersenyum. Lihat saja Nurhey
memiliki gigi kelinci yang indah dan akan membuat dia nampak cantik jika ia
tersenyum dan aku memiliki gigi kelinci dan satu gingsul di sebelah kiri,
itulah salah satu hal yang membedakan kita berdua. Nampak dari foto Nurhey yang
selalu Mamak kirimkan melalui surat setiap bulannya.
Kita memang dilahirkan kembar, akan tetapi kita memiliki
kehidupan yang sangat jauh berbeda. Karna sejak aku berumur 5 tahun, aku mulai tumbuh besar bersama Pakde dan Bude
disebuah kota besar Provinsi Jawa Tengah yaitu Kota Solo. Sedangkan Nurhey
tumbuh besar disebuah pulau bernama Belitung. Kita memang terpisah jauh, akan
tetapi kita masih selalu dapat berkomunikasi melalui sebuah surat.
Dulu sewaktu aku masih duduk
dibangku Sekolah Dasar, aku selalu mendengar cerita – cerita tentang Mamak,
Ayah dan Nurhey yang selalu diulang Pakde berulangkali setiap mengantarku ke
sekolah dengan sepeda kebonya. Cerita Pakde yang masih jelas aku ingat bahwa “Saat
kamu masih berusia belia, keadaan keluarga kamu masih berada di ujung masalah
perekonomian yang besar, kapal ayahmu yang biasa digunakan untuk berlayar mencari
ikan dan menghidupi keluarga sehari- hari hanyut terbawa ombak yang pasang pada
saat itu. Sedangkan dagangan Mamakmu dipasar hangus dilalap si jago merah,
bersamaan dengan itu juga datanglah seorang saudagar kaya yang ingin
mengambilmu untuk dijadikan anak angkatnya, akan tetapi karna Ayahmu adalah orang yang sangat
bijaksana maka ia tidak mau memberikanmu pada saudagar kaya dan akhirnya Ayahmu
mengambil keputusan untuk menitipkanmu kepada Pakde dan Bude di Solo. Ayah dan
Mamakmu pada waktu itu benar – benar di beri ujian besar oleh Sang Maha Kuasa”
Cerita – cerita itu selalu masuk melalui gendang - gendang
telingaku setiap pagi, dan aku tetap duduk diantara stang sepeda dan tubuh Pakde
yang kecil, menyimak dengan seksama. Aku
tidak pernah bosan mendengar cerita – cerita tersebut walaupun harus diulang
sampai berpuluh-puluh kalipun, hingga aku hafal diluar kepala, bahkan kalaupun
disuruh menceritakan kembali aku pasti bisa menceriakan kembali dengan fasihnya.
Mendengar cerita – cerita Pakde serta surat – surat yang selalu
Mamak dan Ayah kirimkan ke Solo aku
selalu mempunyai cita – cita untuk bisa menyusul Mamak, Ayah, dan Nurhey di
Belitung, karna aku ingin sekali berkumpul dengan mereka merasakan hangatnya
dekapan sebuah keluarga kecil. Apa lagi kalau Mamak dan Nurhey sudah mulai
bercerita tentang keindahan alam disana, seakan- akan aku ingin langsung
terbang kesana, tetapi setiap aku menulis surat untuk mereka di Belitung yang
berisi “ Mamak, Ayah, Nurhey, aku rindu kalian, aku ingin bertemu dan berkumpul
dengan kalian, Mamak, Ayah tolong bawa Nurmey ke Belitung”
Mamak selalu membalas “ Nurmey sayang, Mamak, Ayah dan Nurhey
juga rindu sekali dengan Nurmey, tapi Mamak dan Ayah belum bisa menyusul mu ke
Solo Nak, karna ada banyak hal yang membuat Mamak dan Ayah belum bisa
meninggalkan Belitung, kamu yang sabar ya Nak, belajar yang rajin, jadi orang
sukses dan susullah Mamak, Ayah dan Nurmey di Belitung, Mamak dan Ayah minta
maaf Nak, doa kami selalu untukmu, salam untuk Pakde dan Budemu”
Jawabku dalam surat balasan “ iya Mamak, Nurmey janji bahwa
Nurmey akan belajar dengan rajin disini, menjadi orang pintar dan sukses serta
akan pulang kembali bersama kalian.
Nurmey ingin memeluk Mamak, Ayah dan Nurhey. Mamak, Ayah, Nurhey kalian tahu
tidak bahwa aku selalu membayangkan betapa bahagianya aku saat berada disana
bersama kalian, aku selalu membayangkan bermain di pantai pasir putih bersama
kalian semua, bermain ombak bersama, melihat burung burung beterbangan, melihat
pelangi diatas bebatuan Pantai Tanjung Tinggi , merasakan hiruk piruk Pulau
Belitung seperti yang selalu kalian ceritakan disetiap sudut surat. Tapi tak apalah, waktu tak akan berjalan lama
karna aku yakin kelak pasti aku akan menyusul kalian di Belitung. Mamak, Ayah
dan Nurhey, doakan aku selalu disini. Aku merindukan kalian, salam sayang
Nurmey”
Seperti yang aku tuliskan dalam isi surat tersebut bahwa aku
akan berjuang terlebih dahulu disini, menuntut ilmu, menjadi orang sukses dan
selanjutnya Belitunglah tujuan pertamaku. Untuk memetik buah kerinduan Mamak,
Ayah dan Nurmey.







0 komentar:
Posting Komentar